Selain di pinggir jalan, banyak pedagang di
sentra kerajinan dan peralatan rumah tangga Lopait menempati lahan
sendiri. Mereka juga memanfaatkan lahan perkebunan dan lahan milik desa.
Kecilnya modal menjadikan jumlah pedagang terus bertambah. Apalagi
suplai barang dagangan bisa dikredit dari pemasoknya langsung.
Sebagai
sentra kerajinan dan peralatan rumah tangga, Lopait makin ramai.
Selain banyak pedagang yang membuka dagangan di pinggir Jalan Fatmawati,
banyak juga penduduk desa yang memakai pekarangan untuk membuka usaha.
Contohnya,
Siti Asnah, perempuan asli Lopait ini membuka usaha dengan menempati
lahan pekarangan rumah sendiri. Dengan begitu, dia tak lagi dipusingkan
dengan pajak atau berbagai pungutan retribusi lainnya
Berbeda
dengan Dwi Ismiyati. Dia harus menyewa lokasi, dengan sistem kontrak
untuk berdagang alat rumah tangga. Tiap tahun Ismayati mengaku harus
membayar Rp 500.000 untuk sewa tempat. Saban hari, dia juga harus
menyetor Rp 2.000 ke desa.
Ismayati saat ini menempati lahan
milik desa. Sebelumnya, ia berjualan alat-alat rumah tangga di pinggir
jalan hingga Mei 2010. Saat ini, ia menempati lahan yang lebih luas
dan aman. "Tempat parkir juga luas. Jadi pengunjung tidak lagi waswas
dengan kendaraannya," katanya.
Di tempat barunya, dia juga bisa
memakai ruang kosong yang dilengkapi kasur untuk beristirahat. Maklum,
usaha dagang yang dia lakoni beroperasi 24 jam, tanpa henti.
Selain
Ismiyati, Ngateni juga membuka tokonya selama 24 jam. "Saya setiap hari
di sini. Sesekali pulang menjenguk anak," katanya. Walau sering merasa
kejenuhan, dia akan terhibur jika tokonya ramai.
Untuk memenuhi
pasokan produk kerajinan dan peralatan rumah tangga, para pedagang lebih
banyak menggantungkan dari pemasok yang datang beberapa kali dalam
seminggu.
Kalaupun butuh pasokan barang dengan segera, pedagang
di sentra ini juga tinggal angkat telepon untuk memesan ke para pemasok.
Selain dengan pembayaran kontan, para pemasok itu biasanya juga
menerima pembayaran kredit. "Modalnya kepercayaan," kata Setyo Wahyudi
salah satu pemasok.
Lelaki asal Lopait Tuntang ini sudah lama
menjadi pemasok barang kerajinan dan perlengkapan rumah tangga. Menurut
Setyo, selain memasok barang ke pedagang lain, dia juga memiliki kios
serupa di sentra ini.
Inilah sebabnya, Setyo dianggap sebagai
pionir di sentra kerajinan dan peralatan rumah tangga ini. Apalagi, pada
awalnya memang dia yang mengawali penjualan produk kerajinan dan
peralatan rumah tangga. Melihat pembeli yang datang silih berganti,
pedagang yang dulu menjual buah, tertarik mengikuti usahanya.
Menurut
Setyo, menjadi pemasok dagangan bukan tanpa resiko. Sebab, banyak
pelanggan yang memilih berutang barang namun tidak bisa membayar saat
ditagih. "Kebanyakan mereka membayar jika sudah punya uang," ujarnya.
Meski membayar, para pedagang ini belum tentu juga bisa melunasi seluruh
utang yang menjadi kewajibannya.
Selain dibayar dengan cara
mengangsur, keuntungan yang dia peroleh dari memasok barang ke pedagang
juga sedikit. Setyo mengaku hanya mengambil keuntungan 5%-10% dari nilai
produk. Keuntungan tersebut bisa, kata Setyo, belum sepadan dengan
pengeluaran transportasi yang dari tahun ke tahun terus naik.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !