08 April 2008
- Kerugian Rp 40 Juta, Tak Ada Korban Jiwa
TUNTANG- Bangunan Raudlatul Athfal (RA) Miftahul Huda 2 di Dusun Gudang, Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (07/04) pagi sekitar pukul 06.00 kemarin runtuh.
Sekolah yang memiliki dua kelas itu ambruk karena kondisi bangunannya yang sudah memprihatinkan. Bangunan sekolah tersebut runtuh karena atap kayunya sudah lapuk dimakan usia dan tidak kuat lagi menopang beban.
Akibatnya, 40 siswa sekolah setingkat Taman Kanak-kanak tersebut kehilangan tempat belajar. Kerugian akibat peristiwa itu ditaksir sekitar Rp 40 juta.
Budiyono, Kepala Desa Lopait mengatakan, ambruknya sekolah itu diketahui kali pertama oleh Mahmudah Dwi Lestari (28) dan Rohmatun (24), guru RA tersebut.
’’Saat itu mereka hendak pergi ke sekolah, tetapi terkejut mendapati bangunan sekolah sudah ambruk,’’ kata Budiyono saat ditemui di kantornya. Dia didampingi oleh Zaenal Arifin (38) Kepala Dusun Gudang dan Gatot Widodo, Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Lopait.
Kayu Glugu
Reruntuhan sekolah itu ada yang menimpa bangunan milik Anas (25) warga RT-2 RW-3 yang letaknya memang persis bersebelahan.
Jarak antara kantor kepala Desa Lopait dengan RA Miftahul Huda hanya sekitar 50 meter. RA Miftahul Huda 2 adalah satu dari lima TK yang ada di desa yang terdiri dari empat dusun tersebut.
Ambruknya bangunan itu menyebabkan kegiatan di kelas A dan B RA tersebut terhenti. Alat-alat peraga dan permainan yang ada hancur tertimpa reruntuhan. Sejak kemarin, kegiatan RA tersebut sementara terhenti, murid-murid diliburkan sementara. Kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Kantor Departemen Agama Kecamatan Tuntang. ’’Katanya besok (hari ini) mau ditinjau,’’ tutur Budiyono.
Bangunan sekolah itu merupakan rumah yang kemudian diubah menjadi sekolah, yang tidak pernah mendapat renovasi sejak awal berdiri. Tembok bangunannya dari awal berdiri hingga ambruknya, juga hanya berupa batu bata tanpa mendapat plesteran. Temboknya di beberapa bagian juga telah retak-retak. Atap kayunya terbuat dari kayu glugu, yang sudah lapuk. Bangunan itu rentan untuk ambruk lagi.
Zaenal Arifin menjelaskan, sebelum diubah menjadi sekolah, bangunan itu merupakan rumah milik keluarga Rosyidi. yang kemudian dihibahkan ke yayasan Maarif. ”Kalau tidak salah, rumah itu dipakai untuk sekolah sejak tahun 1990,’’ kata Zaenal. Dia lalu menambahkan bahwa RA tersebut berdiri di atas tanah berukuran 20 m x 10 m dan luas bangunan 8 m x 12 m. Saat ini memiliki 40 siswa, terdiri dari kelas A dan B. ”Saat ambruk, tidak ada murid di dalamnya,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut Budiyono menambahkan, rencananya, kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu sementara akan menumpang di rumah Anas. Namun bila tidak memungkinkan, maka sekolah sementara dipindahkan di balai Desa Lopait.
Dia berharap agar sekolah segera mendapatkan bantuan dan perhatian, agar KBM para siswa tidak terganggu. (bsn-16)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !